Minggu, 18 Oktober 2015

DILAN : Dia adalah Dilanku Tahun 1990 (Review)



Beberapa waktu yang lalu, saya baru selesai membaca sebuah novel yang berjudul Dilan. Awalnya, hanya penasaran karena teman-teman kantor sering membicarakannya. Saya pun akhirnya meminjam novel ini pada salah satu teman kantor dan selesai membacanya dalam kurun waktu dua hari. Dibandingkan dengan novel-novel yang pernah saya baca sebelumnya, yakni novel-novel karangan Tere Liye dan Kang Abik, novel Dilan ini memiliki cerita yang lebih ringan. Novel karangan Pidi Baiq ini mengangkat kisah cinta sepasang anak SMA, yakni antara Dilan dan Milea. Kisah cinta masa SMA yang penuh dengan keceriaan akan membuat anda yang membacanya senyum-senyum sendiri.

Novel ini mengambil sudut pandang sang wanita yang menjadi tokoh utama, yakni Milea. Milea yang satu SMA dengan Dilan menceritakan bagaimana awalnya ia merasa risih hingga akhirnya jatuh hati dengan Dilan. Milea bercerita bahwa Dilan berusaha mendekatinya dengan berbagai macam cara yang terbilang cukup unik (anti mainstream) dan berbeda dengan teman-teman lainnya yang juga berusaha mendekatinya. Suatu waktu, Dilan sok menjadi peramal dengan bilang kepada Milea bahwa suatu saat Milea akan duduk berboncengan motor dengan Dilan. Dilan juga meramal bahwa suatu saat Milea akan jatuh cinta kepadanya. Saking seringnya berbuat unik, Milea merasa kehilangan sesuatu apabila Dilan tidak melakukannya satu hari saja. 

Keunikan lainnya terjadi saat Milea ulang tahun. Coba bayangkan, siapa yang berpikir bahwa TTS adalah hadiah ulang tahun yang tepat untuk orang yang dicintainya? Dilan melakukan itu. Untuk alasannya, bisa anda temukan sendiri saat membaca novel ini nanti. Ada pula kiriman coklat dari Dilan yang dikirimkan melalui perantara yang berbeda-beda, kadang tukang pos, tukang sayur, tukang roti ataupun tukang-tukang lainnya. Saat Milea resmi jadian dengan Dilan, Dilan menulis sebuah pernyataan yang dibuat seperti naskah proklamasi berisi tentang hubungan Milea dan Dilan yang resmi pacaran. Dilan juga menyiapkan materai untuk ditandatangani seakan-akan pernyataan tersebut sebuah surat penting.

Secara keseluruhan, novel ini sangat nikmat untuk dibaca. Ceritanya yang ringan dan penuh dengan keceriaan cinta masa SMA membuat anda merasa tenggelam di dalamnya. Bahkan bagi yang sudah jauh dari masa SMA-nya, bisa menjadi ajang nostalgia mengingat masa-masa percintaan anak SMA. Novel ini juga mengajarkan betapa asyiknya menjadi diri sendiri yang digambarkan oleh tokoh Dilan. Ia tidak peduli bagaimana orang lain mendekati Milea, ia selalu yakin dengan dirinya sendiri dan bebas tanpa tergantung apapun. Ia juga pintar dalam hal mengistimewakan orang yang dicintainya hingga Milea merasa nyaman berada di dekatnya. Novel ini masih ada edisi keduanya yang baru nongol di toko buku kesayangan anda beberapa minggu terakhir ini. Nah, tunggu apalagi, segera baca novelnya dan nikmati keunikan tingkah Dilan di dalamnya.

"Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan"
by Milea

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungannya, silahkan tinggalkan komentar anda di kolom ini !