Jumat, 03 Januari 2014

Negeri di Ujung Tanduk (Review)


Happy new years bloggers! Selamat Tahun Baru semuanya. Tahun baru, semangat baru, dan senantiasa membuat diri kita semakin baik ke depannya. Semoga semua target yang kita buat di tahun ini bisa tercapai. Amiin. Okay bloggers, kali ini saya mau sedikit share mengenai novel karangan Tere Liye yang berjudul 'Negeri di Ujung Tanduk'. Novel ini merupakan lanjutan dari novel Tere Liye lainnya yang berjudul 'Negeri Pada Bedebah'. Novel 'Negeri di Ujung Tanduk' baru aja selesai saya baca dua hari yang lalu. Ini merupakan novel Tere Liye pertama yang saya baca. Setelah mendengar pendapat beberapa orang bahwa novel-novel Tere Liye bagus, saya pun ingin mencoba membaca salah satunya. Ketika beberapa kali berkunjung ke Gramedia, ada beberapa novel Tere Liye yang cukup menggoda saya seperti 'Sunset Bersama Rosie', Negeri Para Bedebah', 'Negeri di Ujung Tanduk', 'Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin' dan sebagainya. Namun, karena ingin membeli buku yang lain pada akhirnya saya tidak jadi membelinya. Kemudian saya memutuskan untuk meminjam salah satu novel Tere Liye dari teman dan ia meminjamkan 'Negeri di Ujung Tanduk'. Ia pun mengatakan sebaiknya saya membaca 'Negeri Pada Bedebah' terlebih dahulu sebelum membaca 'Negeri di Ujung Tanduk'. Namun nasehatnya saya abaikan dan langsung membaca novel 'Negeri di Ujung Tanduk'

Okay, langsung aja saya ke cerita tentang novelnya. Novel ini menceritakan tentang seorang pemuda bernama Thomas yang bekerja sebagai konsultan politik. Ia mendirikan kantor sendiri bersama orang-orang kepercayaan yang ia pilih sendiri. Ia juga sering menjadi pembicara dalam seminar-seminar tertentu. Bahkan, pada novel ini ia menghadiri suatu konferensi di Hongkong. Reputasinya di dunia politik cukup dikenal banyak orang. Teman-teman media dan wartawan pun sangat segan kepadanya. Pada novel ini juga diceritakan bahwa ia baru saja memenangkan dua pemilihan gubernur bersama kliennya dan saat ini ia sedang berusaha untuk memenangkan salah seorang kliennya yang berinisial JD untuk menjadi calon presiden dari sebuah partai. Thomas memilih mendukung JD karena ia tahu bahwa JD adalah calon presiden yang bersih dan jujur serta bertekad untuk benar-benar menegakkan hukum. Apabila kliennya mampu menjadi calon presiden dari partai tersebut, ia sangat yakin bahwa kliennya akan menjadi kandidat kuat untuk menjadi presiden pada pemilu nanti dan dapat memberikan masa depan yang cerah untuk Indonesia. Penentuan calon presiden partai ditentukan melalui konvensi yang akan digelar partai tersebut dalam beberapa hari ke depan. Thomas dan teman-temannya di kantor pun berjuang mati-matian untuk dapat mewujudkan hal tersebut.

Konflik yang ada pada novel ini bagi saya cukup menegangkan. Pada umumnya, novel-novel yang ada saat ini cenderung lebih mengisahkan tentang percintaan, persahabatan ataupun misteri. Namun,
novel ini menceritakan tentang dunia politik dan kegelapannya yang berkaitan dengan mafia hukum. Bagi saya novel ini berbeda dengan novel-novel yang pernah saya baca sebelumnya. Konfliknya mengarah pada bagaimana orang-orang yang tidak menyukai ataupun tidak setuju kepada JD, melakukan segala cara untuk menggagalkan JD menjadi calon presiden. Mereka memulainya dari difitnahnya Thomas yang dituduh sebagai pembawa barang ilegal yang berisi narkoba dan senjata ketika ia sedang berada di Hongkong hingga tuduhan korupsi sebuah proyek yang ditujukan kepada JD. Thomas pun berulang kali harus kabur dari kepungan kepolisian yang mendapat kabar fitnah tersebut. Thomas harus berusaha kabur ketika ia ditangkap oleh kepolisian Hongkong, kemudian kembali ke Indonesia dan di tanah air pun ia harus berlari ke sana kemari untuk dapat menghindar dari kepungan polisi. 

Konflik berlanjut tentang bagaimana usaha Thomas mengungkap orang-orang yang bekerja untuk menggagalkan JD menjadi calon presiden. Ia percaya bahwa JD tidak pernah melakukan perbuatan seperti yang telah dituduhkan. Ia pun menghubungkan bahwa kegiatan ini berhubungan dengan sebuah jaringan besar dan terstruktur yang kemudian disebut sebagai mafia hukum. Dalam usahanya, Thomas dibantu oleh seorang wartawan bernama Maryam yang ia temui di Hongkong, Maggie yang merupakan asisten di kantornya, Kris dan kawan-kawan yang merupakan orang-orang IT yang bertugas untuk menganalisa data dan informasi untuk mengungkap kasus serta beberapa tokoh penting lain yang ada pada novel ini. Kesimpulan diperoleh bahwa segala fitnah yang telah ada dikerjakan oleh sebuah jaringan yang besar dan terencana yang disebut sebagai mafia hukum. Setelah melakukan analisa secara mendalam, diketahui bahwa orang-orang yang terlibat mafia hukum tersebut ternyata meliputi pejabat tertinggi badan penyelidik kepolisian, petinggi partai yang sama dengan partai JD, anggota DPR, pejabat pemerintahan, birokrat kelas bawah, bintara polisi, jaksa, hakim dan beberapa pengusaha. Klimaks pun terjadi ketika Thomas dan kawan-kawan bertarung melawan mafia hukum tersebut. Pertarungan strategi kedua kubu tersebut sangat menarik untuk diikuti. Top markotop pokoknya. Untuk lebih tahu bagaimana ceritanya, saya sangat merekomendasikan untuk membaca novel ini dan kalau perlu dibuat film. Jarang-jarang film Indonesia bertema seperti ini, apalagi bakal ada adegan action-nya. Mari kita tunggu industru film tertarik dengan cerita di novel ini.

Secara keseluruhan saya menyukai novel ini, mulai dari alur ceritanya, konflik di dalamnya, setting, dan pesan moral yang ada di dalamnya. Novel ini seolah menceritakan kepada kita bagaimana sisi gelap dunia politik yang berkaitan dengan mafia hukum yang mungkin saja memang benar adanya pada kehidupan kita. Apalagi di tahun ini kita akan menghadapi pemilu 2014 untuk pemilihan presiden dan wakilnya. Tampaknya, kita harus lebih berhati-hati dalam memilih dan menangkap informasi yang diberitakan di media. Apabila salah, mungkin saja presiden yang kita pilih nanti bukanlah presiden yang bekerja untuk rakyat namun bekerja hanya untuk golongannya, semoga tidak akan terjadi di Indonesia. Selain itu, novel ini juga memberikan pesan bahwa kita harus peduli atas segala kejadian yang ada. Segala peristiwa buruk yang sedang terjadi, apabila kita tidak peduli akan menjadi semakin buruk. Untuk memperbaikinya, kita harus peduli dan berusaha membuat perbaikan bukan mengabaikan.

Setelah membahas sisi positifnya, ada beberapa hal yang tidak saya sukai pada novel ini. Karakter tokoh utama Thomas tampaknya terlalu sempurna dan selalu diliputi oleh keberuntungan. Bayangkan, ia beberapa kali sukses melarikan diri dari kepungan polisi setelah bertemu dengan beberapa tokoh secara kebetulan. Hal ini terjadi beberapa kali ketika ia kabur dari Hongkong, kabur dari salah satu penjara di tanah air serta peperangan puncak ketika melawan mafia hukum di sebuah kapal. Walaupun ini fiksi, tapi lebih seru kayaknya apabila semua tidak terjadi secara kebetulan. Rekomendasi dari saya, alangkah baiknya sebelum membaca novel 'Negeri di Ujung Tanduk' anda membaca terlebih dahulu 'Negeri Para Bedebah'. Apabila anda tidak membacanya dari sana, mungkin terkesan ada tokoh yang muncul tiba-tiba seperti yang saya alami ketika membaca novel ini. 

Pokoknya, secara keseluruhan saya beri nilai 8/10 untuk novel ini. Maju terus karya anak bangsa, semoga tulisan ini bermanfaat!

Untuk melihat beberapa quotes menarik kutipan dari novel ini dapat dilihat pada link di bawah ini :

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungannya, silahkan tinggalkan komentar anda di kolom ini !