Jumat, 19 Juli 2013

Anda Seorang Budak, Pedagang atau ... ?


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Selamat malam kompasianers, bertemu lagi dengan saya (seakan jadi presenter), hehee...
Alhamdulillah, malam ini kita telah memasuki 10 hari kedua bulan Ramadhan atau lebih tepatnya malam ke-11 Ramadhan. Seperti yang kita ketahui, bahwa Ramadhan terbagi menjadi tiga bagian dimana 10 hari pertama merupakan limpahan rahmat yang diturunkan oleh Allah swt, 10 hari kedua adalah ampunan dan 10 hari terakhir adalah bebas dari api neraka. Semoga kita semua mampu melewati semuanya dan maksimal dalam beribadah hingga akhir Ramadhan. 

Malam ini, saya mendapat sebuah wejangan yang bisa jadi intropeksi diri kita semua. Seperti biasa di Bulan Ramadhan, saya melaksanakan shalat Tarawih setelah melaksanakan shalat Isya secara berjamaah di masjid terdekat. Pada malam ini, ada sedikit tausyiah dari pengurus masjid dan tausyiah yang dibawakan menceritakan mengenai karakter manusia ketika Ramadhan. Let's check this out!


Sang pembawa tausyiah bercerita bahwa karakter manusia dalam menjalankan ibadah di Bulan Ramadhan ini terbagi menjadi tiga karakter. Yang pertama, adalah budak. Mengapa budak? Budak sangat identik dengan pembantu yang pekerjaannya harus mentaati sang majikan. Apabila majikan berkata 'A', maka ia harus melakukan 'A'. Apabila 'B', ia juga harus 'B'. Pokoknya ia harus mentaati sang majikan. Jadi, apabila anda adalah orang yang berkarakter Budak dalam menjalani ibadah Ramadhan, maka anda hanyalah orang yang sekedar menjalankannya. Contohnya, anda memang menjalankan puasa dengan menahan lapar dan dahaga, namun anda belum mulai meresapi maknanya dan hanya sekedar menjalankan kewajiban. Jadi,, yang terpenting, perintah terlaksanakan.

Kedua, adalah tipe pedagang. Dalam kehidupan sehari-hari, pedagang butuh untuk menjual sesuatu agar ia mampu meraih keuntungan demi mempertahankan hidup. Apabila ia tidak berdagang, maka kebutuhan hidupnya tidak akan terpenuhi. Dikaitkan dengan Ramadhan, apabila karakter pedagang dihubungkan dengan kita yang menjalankan ibadah Ramadhan, maka ia mulai menyadari bahwa hal ini merupakan kebutuhan. Kebutuhan bisa diibaratkan bahwa kita sangat menginginkan pahala dan keberkahan dari Allah swt agar memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Apalagi selama Ramadhan, segala bentuk kebaikan sangat diobral pahalanya, pasti sangat menggiurkan bukan?

Yang terakhir ini adalah karakter yang paling istimewa. Namun sayangnya, sebutan untuk karakter ini saya lupa namanya (maaf ya, hehee...). Pokoknya karakter ini menjalankan segala sesuatunya sudah tidak memikirkan lagi bahwa yang ia kerjakan adalah atas dasar perintah ataupun atas pertimbangan untung rugi melainkan ia menjalankannya berdasarkan rasa cinta kepada Allah swt. Seperti kita yang pada umumnya pernah jatuh cinta dengan seseorang, kita pasti akan melakukan apapun untuk memberikan yang terbaik kepada pasangan kita agar memperoleh kebahagiaan. Perasaan rindu kepada pasangan juga akan selalu menyelimuti kita setiap waktu. Apabila kita telah sampai pada karakter yang terakhir ini, kita akan merasakan ibadah sangat-sangat nikmat demi membuktikan kecintaan kita kepada Allah swt. Apapun bentuknya, akan selalu kita lakukan untuk menyalurkan rasa cinta dan rindu kepada Allah swt. Tentunya, yang seperti ini sangat luar biasa dan setiap orang ingin sekali untuk bisa mencapai karakter ini, masya Allah.

Apapun karakter kita, sebenarnya ini hanyalah sebuah intropeksi diri sendiri untuk mengukur seberapa baik kondisi kita. Apabila memang merasa masih kurang, masih ada waktu dan kesempatan yang diberikan oleh Allah swt. Semua butuh proses, dan setiap proses membutuhkan perjuangan yang sangat keras. Ketika kita mampu melewati semua proses yang ada, insya Allah kita akan sampai pada karakter yang terakhir, amin. Wallahu a'lam bish-shawabi

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kompasiana akun : Sandy Sulistyo


Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungannya, silahkan tinggalkan komentar anda di kolom ini !