Rabu, 15 Agustus 2012

“PARA PEMUDA”, SANG PENGGERAK, PENGUBAH ATAU PENONTON?




Rasulullah saw bersabda, dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, “Tidak akan beranjak kaki anak Adam pada Hari Kiamat dari sisi Rabbnya sampai dia ditanya tentang 5 (perkara) : Tentang umurnya dimana dia habiskan, tentang masa mudanya dimana dia usangkan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan kemana dia keluarkan dan tentang apa yang telah dia amalkan dari ilmunya”. (HR. At-Tirmizi)

          Para pembaca yang insya Allah dirahmati oleh Allah swt, usia muda merupakan usia yang  produktif yang memberikan peluang cukup besar untuk melakukan karya manfaat yang sebesar – besarnya. Usia muda merupakan usia dengan semangat yang masih membara, energi masih cukup dan stamina tubuh yang masih fit. Tak pantas jika seorang pemuda bermalas – malasan dalam menjalani hidup, terlebih dalam berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk agama, bangsa dan dirinya sendiri.
          Remaja memiliki tanggung jawab terhadap diri, lingkungan keluarga, negara juga agamanya. Islam sangat menghargai kaum muda dalam memperjuangkan kebaikan akan diri dan agamanya, bahkan Allah mengatakan bahwa Dia lebih menyukai seorang pemuda takut berbuat dosa dan memilih taat kepada Allah ketimbang kaum tua.  Remaja merupakan usia di mana seseorang menganggap dirinya masih cukup lama mengarungi kehidupan, sehingga terkadang dapat melakukan hal – hal apa saja yang dirasa ingin dicobanya. Oleh sebab itu wajar jika Allah sangat menyukai pemuda yang takut berbuat maksiat kepada-Nya.
          Tidak diragukan lagi bahwa para pemuda memiliki peran yang sangat penting dalam tatanan kehidupan manusia secara umum dan masyarakat kaum muslimin secara khusus, karena jika mereka adalah para pemuda yang baik dan terdidik dengan adab-adab Islam maka merekalah yang akan menyebarkan dan mendakwahkan kebaikan Islam serta menjadi nakhoda ummat ini yang akan mengantarkan mereka kepada kebaikan dunia dan akhirat. Oleh karena itulah para sahabat di zaman Rasulullah saw memiliki andil dan peran yang sangat besar dalam menyebarkan agama ini baik dari sisi pengajaran maupun dari sisi berjihad di jalan Allah swt. Di antara mereka ada Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Amr ibnul Ash, Muadz bin Jabal, dan Zaid bin Tsabit yang mereka ini telah mengambil berbagai macam ilmu yang bermanfaat, menghafalkannya, dan menyampaikannya kepada ummat sebagai  warisan dari Nabi mereka. Di sisi lain ada Khalid ibnul Walid, Al-Mutsanna bin Haritsah, Asy-Syaibany dan selain mereka yang gigih dalam menyebarkan Islam lewat medan pertempuran jihad di jalan Allah swt. Seluruhnya mereka adalah satu ummat yang tegak melaksanakan beban kewajiban mereka kepada agama, ummat, dan masyarakat mereka, yang mana pengaruh atau hasil usaha mereka masih kekal sampai hari ini dan akan terus menerus ada -dengan izin Allah- sepanjang Islam ini masih ada.
          Para pemuda di zaman ini adalah para pewaris mereka, jika mereka mampu untuk memperbaiki diri-diri mereka, mengetahui hak dan kewajiban mereka, serta melaksanakan semua amanah yang diberikan kepada mereka yang berkaitan dengan ummat ini. Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda dalam hadits yang shahih, “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya,” lalu beliau menyebutkan di antaranya, “Seorang pemuda yang tumbuh dalam penyembahan kepada Rabbnya."

Pemuda Sebagai Generasi Harapan Islam
             Islam adalah agama yang sangat memperhatikan dan memuliakan para pemuda, al-Qur’an menceritakan tentang potret pemuda ashaabul kahfi sebagai kelompok pemuda yang beriman kepada Allah SWT dan meninggalkan mayoritas kaumnya yang menyimpang dari agama Allah SWT, sehingga Allah SWT menyelamatkan para pemuda tersebut dengan menidurkan mereka selama 309 tahun. Ada sebuah pepatah yang mengatakan pula bahwa awal kehancuran sebuah negeri apabila kaum remajanya hancur. Begitu pula Islam akan runtuh jika kaum mudanya rusak. Oleh karena itu dibutuhkan kaum muda yang berpegang teguh pada prinsip – prinsip agamanya supaya membawa kebaikan untuk masa depan.

Pemuda Sebagai Generasi yang Memahami Kondisi Realitas Ummat
          Jika kita menyaksikan kondisi mayoritas ummat Islam saat ini, maka terlihat bahwa sebagian besar ummat berada pada keadaan yang sangat memprihatinkan, mereka bagaikan buih terbawa banjir, tidak memiliki bobot dan tidak memiliki nilai. Jika dilakukan analisis secara mendalam dari sudut pandang agama, maka akan terlihat bahwa realitas ummat yang demikian disebabkan diantaranya oelh sikap yang individualis,  emosional, sok pintar, meremehkan serta masih tambal sulam dalam menyelesaikan permasalahan dan sama sekali tidak menyentuh esensi permasalahan yang sebenarnya.

Pemuda Harus Menjadi Generasi yang Bekerja dan Aktif Berdakwah
          Islam memandang posisi pemuda di masyarakat bukan menjadi kelompok pengekor yang sekedar berfoya-foya, membuang-buang waktu dengan aktifitas-aktivitas yang bersifat hura-hura dan tidak ada manfaatnya. Melainkan Islam menaruh harapan yang besar kepada para pemuda untuk menjadi pelopor dan motor penggerak dakwah Islam. Pemuda adalah kelompok masyarakat yang memiliki berbagai kelebihan dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya, diantaranya adalah bahwa mereka relatif masih bersih dari pencemaran (baik aqidah maupun pemikiran), mereka memiliki semangat yang kuat dan kemampuan mobilitas yang tinggi. Para musuh Islam sangat menyadari akan hal tersebut, sehingga mereka berusaha sekuat tenaga untuk mematikan potensi yang besar tersebut dari awalnya dan menghancurkan para pemuda dengan berbagai kegiatan yang laghwun (bersifat santai dan melalaikan), dan bahkan destruktif. Pemuda yang baik oleh karenanya adalah pemuda yang beramal/bekerja dengan didasari dengan keimanan/aqidah yang benar, selalu bekerja membangun masyarakat dan memahami bahwa orang yang baik adalah orang yang paling bermanfaat untuk ummat dan masyarakatnya

Pemuda Harus Menjadi Generasi yang Menjadi Potret Islam
        Para pemuda hendaknya menyadari bahwa mereka haruslah menjadi kelompok yang mampu mempresentasikan nilai-nilai Islam secara utuh bagi masyarakat, yaitu:
  • Mereka menjadi generasi yang hidup qalbunya karena senantiasa dekat dengan al-Qur’an, dan tenang dengan dzikrullah, bukan generasi yang berhati batu akibat jauh dari nilai-nilai Islam, ataupun generasi mayat  yang tidak bermanfaat tetapi menebar bau busuk kemana-mana.
  • Dalam menghadapi kesulitan dan tantangan, maka para pemuda harus sabar dan terus berjuang menegakkan Islam, hendaklah mereka berprinsip bahwa jika cintanya kepada Allah SWT benar, semua masalah akan terasa gampang.
  • Dalam perjuangan, jika yang menjadi ukurannya adalah keridhoan manusia maka akan terasa berat, tetapi jika ukurannya keridhoan Allah SWT maka apalah artinya dunia ini.

Itulah kedudukan pemuda dalam beberapa aspek. Pertanyannya sekarang adalah, kita mau menjadi  pemuda yang seperti apa? Siapkah kita dengan segala konsekuensinya? Semoga Allah senantiasa menjaga danmenqistiqomahkan hati – hati kita untuk tetap berjuang di jalan-Nya. Amin










Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungannya, silahkan tinggalkan komentar anda di kolom ini !