Minggu, 20 Februari 2011

Kami Merindukannmu yaa Rosulullah saw


Semoga Allah swt merahmati orang yang memuji nabi Muhammad saw dalam bait syairnya:

Muhammad, yang diutus membawa kasih sayang
Merubah kesesatan dan memperbaharuinya
Boleh jadi gunung menuruti kemauan Daud, bahkan besi menjadi luluh
Maka, bebatuan dan padang sahara dalam genggamannya (Muhammad) memujinya
Musa, yang mampu memancarkan air dengan tongkatnya
Di tangannya (Muhammad), air bertepuk ceria
Jika angin bisa dikendalikan oleh Sulaiman
Atau kerajaan besar yang dimiliknya,
Bahkan pasukan jin tunduk kepadanya
Maka, pintu-pintu kemegahan dunia datang kepadanya (Muhammad)
Tapi Ia tolak dengan penuh zuhud
Meskipun Ibrahim dijuluki kekasih
Dan Musa yang diajak berbicara di bukit
Dia (Muhammad) lebih menjadi kekasih,
Bahkan yang berbicara dan bertemu langsung dengan nyata
Ia pemilik perogratif syafaat udzma di saat pendosa di ujung neraka
Ia pemilik tempat duduk yang tinggi, yang paling dekat dengan-Nya
Yang paling pertama masuk surga, bahkan pintu-pintunya menanti kedatangannya

Ayyuhal mukminun,

Sunggguh kecintaan terhadap Nabi Muhammad saw merupakan tabungan di setiap hati orang beriman. Tiada seorang mukmin, kecuali ia memiliki kadar cinta kepadanya, sedikit atau banyak. Hakikat cinta terhadapnya tergantung tanda-tanda kecintaan seseorang. Maka tanyakan pada dirimu, telusuri hati dan amalmu, ketika itu Anda tahu kadar cintamu kepadanya.

Ali bin Abi Thalib ditanya, Bagaimana cinta Anda terhadap Rasulullah saw? Ia menjawab, “Sungguh, demi Allah beliau lebih kami cintai dari pada harta-harta kami, anak-anak kami, ayah-ayah kami, ibu-ibu kami dan dari air dingin menyegarkan di kala dahaga.”

Dari Buraidah bin Al Hashib berkata, “Kami jika berkumpul dengan Rasulullah saw tidak mengangkat kepala kami sebagai penghormatan kepadanya.” Imam Al Baihaqi.

Dari Amr bin Ash berkata, “Tidak ada seorang pun yang lebih saya cintai dibandingkan dengan Rasulullah, dan tidak ada yang lebih mulia di mataku melebihinya, saya tidak kuasa melihat dirinya, sebagai penghormatan terhadapnya. Jika saya ditanya, agar saya menceritakan tentang dirinya, saya tidak sanggup untuk itu, karena saya tidak sanggup menatap wajahnya sepenuh mata saya menatap.” Imam Muslim.

Dalam perang “Raji’” Zaid bin Ad Datsinah, salah seorang sahabat tertawan musuh. Maka Shaffan bin Umayyah membelinya untuk dibunuh sebagai ganti terbunuhnya ayahnya. Berkumpullah sekelompok orang dari Quraisy, di antara mereka ada Abu sofyan. Ketika Zaid hendak dibunuh, Abu Sofyan berkata kepadanya, “Wahai Zaid, apa kamu rela Muhammad sekarang menggantikan kamu di tiang salib ini dan kamu bebas bersama keluargamu? Dengan lantang Zaid menjawab,

“Demi Allah, sungguh saya tidak rela Muhammad sekarang ini di tempatnya berada mendapatkan duri sekecil apapun yang menyakitinya, sedangkan saya duduk bersama dengan keluargaku.” Abu Sofwan berkata, “Saya tidak melihat ada manusia yang lebih mencintai seseorang dibanding sahabatnya Muhammad terhadap diri Muhammad.”

Apakah kalian melihat ada cinta yang lebih besar dibanding cinta ini?!

Atau adakah yang lebih benar dari pembelaan ini?!

Ini tidak sekedar sebuah ketaatan dalam bentuk rukuk dua rekaat…

Juga bukan sekedar meninggalkan kelezatan yang menggiurkan…

Ini adalah bukti jiwa-jiwa yang dikorbankan, raga yang lelah dalam taat kepada Allah dan rasul-Nya.

Ayyuhal mukminun,

Kecintaan sahabat Rasulullah saw kepadanya di dunia sampai-sampai menjadikan mereka khwatir tidak bisa berdampingan dengannya di akhirat kelak.

Dari Asy Sya’bi berkata, “Datang seseorang dari sahabat Anshar kepada Rasulullah saw seraya berkata, “Sungguh saya lebih mencintaimu dibanding cinta saya terhadap diriku, orang tuaku, keluargaku, dan hartaku. Seandainya saya tidak mendatangi engkau, saya melihat engkau, maka saya pun juga akan meninggal. Orang tersebut menangis. Rasulullah saw bertanya, “Apa yang menyebabkan kamu menangis? Ia menjawab, “Saya ingat bahwa engkau akan meninggal dan kami pun akan meninggal. Engkau akan diangkat bersama para Anbiya’, sedangkan kami jika masuk surga tidak bersama engkau. Mendengar uraian tersebut Rasulullah terdiam, sampai akhirnya Allah swt menurunkan wahyu,

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup Mengetahui.” An Nisa’:69-70 maka Rasulullah saw berkata kepadanya, “Saya beri kabar gembira kepadamu.” Imam Al Baihaqi.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungannya, silahkan tinggalkan komentar anda di kolom ini !