Kamis, 13 Januari 2011

BACK TO THE SENIOR HIGH SCHOOL (PART II)


Sambil menunggu Pak Eddy mengurus biaya administrasi, aku gunakan kesempatan itu untuk bersilaturahim dengan guru - guru yang telah mendidikku. Pertama kali aku jumpai ialah guru Bimbingan Konselingku, Bu Nuri, yang kebetulan sedang berada di pinggir lapangan bersama dengan guru agamaku, Pak Junaedi.
" Assalamualaikum", sapaku.
" Walaikumsalam, eh anakku, apa kabar?? lagi ada urusan apa nih??", sambutnya dengan ramah.
" Ini bu, lagi mengurus pendaftaran kompetisi Matematika, sekalian ngajak 63", jawabku.
" Ooh, UI yang ngadain ya?? LOGIKA bukan, soalnya kemarin ada yang kirim brosurnya ke sini, tapi coba tanya Pak Eddy deh", balasnya.
" Siap bu, sedang diurus kok, tadi saya udah bertemu dengan beliau, doain aja supaya bisa menang,hehehee....", tambahku.


Setelah berbincang - bincang sejenak dengan Bu Nuri, saya beranjak ke Pak Junaedi. Saya mengucapkan salam kepada beliau. Beliau pun hanya bertanya - tanya sedikit mengenai perkuliahan saya. Seputar kuliah di mana dan jurusan apa. Maklum, tampaknya dia sedang sibuk mengurusi yang lain sehingga tidak punya cukup banyak waktu untuk mengobrol.

Kemudian kujumpai Pak Muslim, guru fisikaku. Beliau masih terlihat humoris seperti dulu. Dengan sedikit bersenda gurau, kami sejenak berbincang - bincang. Namun tak lama kemudian kulihat Pak Eddy berjalan mencari - cari kami berdua. Nampaknya beliau telah selesai mengurus administrasi. ( Maaf ya Fikri, kalo elama aku ngobrol dengan guru- guru, sedikit dicuekin...)^^ Beliau mengajak kami ke bagian Tata Usaha sekolah untuk mengambil biaya administrasinya.

Di ruang Tata Usaha, saya bertemu guru Kimia saya yang juga bekerja di bagian Tata Usaha, Ibu Dwi. Sementara Fikri menunggu di luar.
" Eh, sandy, apa kabar??? Udah lama ga keliatan, sombong ya udah kuliah ga ke sini - sini, udah lupa ya sama sekolahnya??", candanya.
" Ah, nggak kok. Cuma sibuk kuliah aja bu. Tenang bu, saya gak akan lupa sama sekolah ini,heheheee....," balasku simple.
" Ah bohong itu bu, dia sibuk pacaran di UI, ia kan san??," ledek Pak Eddy sambil sedikit tersenyum.
" Wah, bapak bisa aja," jawabku sekenanya.
Kukeluarkan kertas kwitansi pembayaran sebagai bukti transaksi.
" Begini San, bapak mengutus tiga orang untuk ke sana, jadi dua ratus dua puluh lima ribu ya", kata Pak Eddy.
" Ehhmm,.....",pikirku sejenak.
" Ah kamu San, anak Matematika kok masih lama mikirnya", ledek Bu Dwi.
" Heheheheee,... ia benar pak, dua ratus dua puluh lima ribu rupiah, maaf masih suka begitu," jawabku.
" Tenang San, bercanda kok", sanggah Bu Dwi.
" Sip bu, santai aja", balasku.

Selesai mengurus Administrasi, kami diperkenalkan oleh para peserta yang diikutsertakan pada LOGIKA ini. Ada tiga orang, Dua orang Cewek dan satu orang pria. Semuanya masih kelas sepuluh. Saya disuruh untuk membimbing mereka jika dihari H nanti Pak Eddy tidak bisa mengantarnya. Lalu saya memberikan nomor saya jika diperlukan oleh mereka jika mereka ingin bertanya - tanya lebih lanjut.

Yups, tugas di 63 pun selesai. Namun belum lengkap rasanya kalau belum ke ruang guru. Rasanya masih banyak guru yang belum kutemui hari itu. Lantas segera beranjak aku ke ruang guru. Dan benar, ternyata lumayan banyak guru walaupun tidak banyak. Diantaranya ada Pak Harry ( guru matematika ), Pak Harun ( guru Sejarah ), Bu Fauziyah ( guru Sejarah ), Pak Adhi ( guru Komputer ) dan beberapa guru lainnya. Pak Harun yang sering menjadi pengontrol kerapian siswa pada jamanku SMA dulu, mengomentari keadaanku yang sekarang.
" Wah kamu ini, mentang - mentang udah kuliah, rambutnya gondrong ya, mau bapak potong kayak dulu lagi, " sambil tertawa Pak Harun menegurku.
" Iya nih pak, mumpung kuliah, gondrong dikit,hehehehee,....", jawabku.
Memang dahulu aku pernah sekali kena pemeriksaan rambut karena sudah gondrong. Untungnya, pada hari tersebut, tidak dipotong paksa, namun hanya teguran. Sisanya aku selalu lolos, entah karena tidak terlihat gondrongnya karena rambutku yang ikal atau hal lain, entahlah. Yang jelas teman - temanku sering kesal karena aku sering tidak kena pemeriksaan karena rambutku yang ikal ini. ( bapaknya emang baik,hehee,...)

Selesai bercengkrama dengan para guru, akupun berpamitan karena masih harus ke SMA 90 yang masih tetangga dengan SMA 63 untuk melakukan hal yang sama. Saat beranjak keluar, aku bertemu dengan Mba Dwi ( orang yang berbeda dengan Bu Dwi) atau nama lengkapnya Dwi Mawartina yang masih pegawai Tata Usaha. Diriku lumayan akrab dengannya karena sering berurusan dengan surat - menyurat yang biasa diselesaikan olehnya. ( Makasih banget dulu udah sering mintain tanda tangan kepsek,hehee,....) Tidak lama kami berbincang - bincang karena Mba Dwi ingin menyelesaikan pekerjaannya. Kemudian aku berpamitan dengan Pak Satpam dan langsung beranjak pergi ke SMA 90 bersama Fikri yang masih setia menemaniku hari itu.

Tidak sampai sepuluh menit, sampailah kami di SMA 90. Sama halnya dengan diriku yang cukup dikenal oleh guru - guruku di 63 ( maaf gak maksud sombong, :),...) Fikri pun sama. Ia banyak dikenal dan bergantian sekarang aku yang lebih banyak diam karena tidak kenal dengan guru - guru di sana. Paling - paling yang kuingat hanya guru matematikanya, yakni Pak Yasin atau biasa dipanggil Pak Abdel ( karena wajahnya mirip Abdel di sitkom Abdel dan Temon yang telah berubah namanya menjadi Bukan Abdel dan Temon Biasa) oleh sebagian teman - temanku yang pernah diajari secara privat olehnya. Setelah menghubungi pihak Tata Usaha, kami pun disuruh menunggu karena tampaknya guru yang biasa mengurusi kompetisi matematika ini sedang ada kelas.

Hingga bel istirahat berbunyi, beliau tak kunjung muncul. Sehingga, kami berinisiatif untuk menghubungi beliau dengan meminta nomornya melalui TU. Setelah kami memintanya, segera kami meneleponnya. Setelah kami meneleponnya ternyata beliau sedang ada di SMA 63. ( Kok malah ada di sana ya, tau gitu tadi nugguin aja, aduuhh,....) Beliau bilang bahwa beliau akan ke sana sebentar lagi. Sambil menunggunya kami berdua segera pergi ke masjid sekolah untuk melaksanakan sholat zuhur yang kebetulan sudah masuk waktu sholat. Jamaahnya lumayan banyak, banyak siswa yang segera ke masjid untuk sholat setelah adzan berkumandang. Kami lepaskan alas kaki dan bergegas mengambil air wudhu. Lalu beranjak ke lantai dua untuk solat berjamaah. Semua siswa/i melaksanakan sholat dengan khusyuk.

Seusai sholat kami berdua beristirahat sejenak di masjid sambil mengobrol mengenai kuliah kami masing - masing. Sekitar sepuluh menit kemudian, kami langsung turun ke bawah dan berusaha menghubungi CP-nya. Saat sedang menghubunginya, beliau meneriaki kami karena ternyata beliau sudah ada di SMA 90. Tanpa buang waktu, kami langsung menjelaskan maksud kedatangan kami. Ternyata yang jadi CP-nya adalah Pak Yasin yang kumaksud tadi. Sama halnya dengan SMA 63, SMA 90 juga mengirim tiga orang untuk LOGIKA kali ini.

Sambil mengurusi biaya administrasinya, kami bertiga pun berbincang - bincang. Dan tak kusangka, Pak Yasin masih mengingat diriku yang pernah ikut belajar privat di rumahnya. Cukup terharu diriku mendengar bahwa beliau masih ingat padaku ( Padahal hanya berapa kali pertemuan dengannya, tapi terima kasih banyak pak, hasilnya memuaskan, saya bisa masuk UI ^^)

Selesai semua urusan di SMA 90 kami beranjak pamit. Pak Yasin juga langsung pergi ke kelas karena akan mengajar. Satu hal yang unik, cara mengajar beliau adalah dengan cara arisan, yakni tiap siswa diundi untuk menjawab soal di depan sehingga mau tidak mau siswa harus belajar dengan abik. ( Nice Idea pak) Dinyalakanlah kendaraan Fikri untuk dipacu ke arah rumah kami. Kulewati gerbang depan SMA 90 dan perlahan - lahan semakin jauh dari pandangan mataku. Cukup puas perjalananku hari ini. cukup menyenangkan bertemu dengan guru- guru lamaku. Hatiku yang semula cukup sedih karena melihat nilai mata kuliah yang tidak memuaskan mulai menghilang dan sedikit menemukan semangat baru.

Kulihat matahari telah berselimut awan hitam yang cukup tebal menandakan akan turun hujan sesaat lagi. Fikripun semakin cepat mengendarai motornya agar sampai di rumah sebelum hujan. Sekian dulu pengalamanku pergi roadshow hari ini. Mohon maaf jika Fikri tidak terlalu diceritakan di sini,hehehee...
Semoga bermanfaat.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungannya, silahkan tinggalkan komentar anda di kolom ini !